Kamis, 30 April 2009

Sesuap Harapan

Tak seperti yang lalu aku menatap
Hanya desahan nafas ini yang tersisa untuk menyapa
Walau hanya sekilas aku menatapmu, hati ini berkata
Wahai malam, kemanakah engkau membawa hatiku?
Dingin pagi menyapa penuh rasa
Tidak terasa matahari sudah beranjak dari tidurnya
Menghampiri, mengalunkan suara penuh rasa harap
Apakah disana masih tersisa madu untukku?
Oh awan, hampirilah diriku yang sudah payah ini
Kerasnya air laut telah menghancurkan nadiku
Mengapa awan hanya diam tak menyapa?
Apakah engau telah kehilangan rasa?
Waktu demi waktu kian berlalu
Kulihat putih sinar menyapa dari jauh
Bergegas kuangkat hati ini dan kukeraskan langkah ini
Demi sesuap harapan yang kian terarah

Ada

Ada, sebuah kata penuh dengan pertanyaan
Ada apa? Ada siapa? Ada berapa? Ada tidak?
Tapi yang terlintas dalam benak.
Ada sesuatu yang tertanam.
Tertanam dengan sangat kuat
Tertanam dengan begitu tertata
Tertanam dengan sangat dalam
Kuat?
Seberapa kuatkah?
Sekuat bajakah?
Atau sekuat kepalan tangan kita
Tertata?
Seberapa tertatakah?
Tertata seperti halaman bukukah?
Atau tertata seperti kerapihan otak kita?
Dalam?
Seberapa dalamkah?
Sedalam lautankah?
Atau sedalam hati kita?
Apakah ada?
Setelah kita kuat, tertata, dan dalam, menjalani hidup ini
Kita akan mendapatkannya.
Ibda' bi nafsi

Technorati